Tofsir dan Baiti kawin lari karena hubungan mereka tidak mendapat restu dari keluarga Baiti. Sejak itu, mereka kemudian tinggal di hutan belantara tanpa pernah bersosialisasi lagi dengan masyarakat lain. Tofsir meninggal, terpaksa Baiti seorang diri membesarkan anak-anaknya menghadapi berbagai dilema kehidupan hutan.
Anak-anak mereka, Maliki dan Sapi’i, tumbuh menjadi pemuda yang juga tidak pernah bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya. Sehari-hari mereka hidup dari segala kebersahajaan hutan. Membangun pondok di bukit, dekat dengan sungai. Makan dari umbi-umbian, ikan, beberapa biji-bijian, daun, dan berbagai kebersahajaan hutan.
Suatu ketika, mereka bertemu Kareen, seorang mahasiswa dari sebuah Universitas Taipeh yang akan melakukan penelitian tentang beberapa spesies flora di Mandailing Natal. Sekalipun memiliki latar sosial budaya yang jauh berbeda, mereka dapat menjadi sahabat. Kareen tertarik pada kebersahajaan mereka, tentu juga pada kesukaan Maliki menggesek biola. Sapi’i menyukai Kareen, tetapi Kareen diam-diam lebih tertarik pada Maliki.
Cerita menjadi rumit karena, sekalipun Maliki juga menyukai Kareen, tetapi ia senantiasa menjaga perasaan adiknya, Sapi’i.
Kamis, 30 Juli 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
